Penyebaran informasi keagamaan hoaks di era digital menjadi ancaman serius bagi kerukunan sosial, khususnya di lingkungan akademik. Mahasiswa, sebagai pengguna aktif media digital, berada pada posisi rentan sekaligus agen potensial dalam siklus disinformasi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran literasi digital, khususnya pada dimensi evaluasikritis, dalam memfilter informasi keagamaan hoaks di kalangan mahasiswa Universitas Teknologi Mataram (UTM). Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan desain sekuensial eksplanatori (QUAN→qual). Data kuantitatif dikumpulkan melaluisurvei dengan teknik stratified random sampling, sementara data kualitatif digali melalui wawancara mendalam dengan partisipan yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan adanya paradoks signifikan: mahasiswa UTM memiliki kemahiran teknis digital yang tinggi, namun menunjukkan kelemahan pada kompetensi evaluasi kritis. Kemampuan evaluasi kritis terbukti menjadi prediktor utama dalam kemampuan memfilter hoaks. Namun, efektivitasnya seringkali dilemahkan oleh faktor psikologi sosial seperti tingginya kepercayaan pada lingkaran pertemanan digital (peer group) dan bias konfirmasi. Disimpulkan bahwa peran literasi digital sebagai filter bersifat kompleks dan tidak otomatis. Implikasinya, Universitas Teknologi Mataram perlu merancang intervensi yang terstruktur dan terintegrasi ke dalam kurikulum untuk secara eksplisit membangun kompetensi evaluasi kritis dan kesadaran etis mahasiswa, tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis
Baca artikel lengkap dalam format PDF.